Indopendent Hacking™

Learning, Infotaiment and Destroying

VIRGIN Cuma 2 Juta

Pernyataan dan data yang disampaikan Den Huri tersebut tidaklah jauh dari realitas yang dialami oleh pelajar SMP pada akhir tahun 2008 silam. Sebanyak 20 siswi SMP Tambora (umumnya kelas 3 SMP) yang sering mangkal daerah Kalijodo dapat dijaring setelah salah satu siswi tertangkap basah oleh satpol PP DKI Jakarta bersama pihak-pihak terkait (SuryaOnline). Setelah melalui penelusuran panjang, para pelajar ini akhirnya mengakui bahwa mereka masuk ke dunia prostitusi karena “tidak tahan melihat” gaya hidup mewah dari rekan-rekannya dari orang kaya. Para siswi ini nekat terjun ke dunia malam hanya karena ingin memiliki uang, barang-barang mewah termasuk handphone model terakhir.

Hasrat yang tinggi untuk memiliki barang mewah tersebut disambut oleh para mucikari sebagai ‘gayung bersambut’, menjadikan ini peluang emas meraup keuntungan. Transaksi seks ABG ini dikoordinasi beberapa mucikari yang biasa beroperasi di Lokasari, Jakarta Barat. Melalui mucikari inilah para siswi yang masih di bawah umur itu dipertemukan dengan pria-pria hidung belang. Dari pengakuan beberapa siswi tersebut diketahui bahwa petualangan mereka diawali dengan menjual keperawanan kepada pria hidung belang Rp 2 juta (SuryaOnline). Setelah keperawan mereka terjual seharga Rp 2 juta, lalu para siswi 15-an tahun ini meneruskannya menjadi penjaja seks dengan tarif setiap kencan Rp 300.000.

“Sekarang gue lagi jomblo. Sudah dua tahun putus. Sakit juga! Habis pacaran empat tahun, dan sudah kayak suami-istri. Dulu, tiap kali ketemu, gejolak seks muncul begitu saja. Terus ML (making love) deh. Biasanya kita lakuin kegiatan itu di hotel. Kadang di rumah juga, kalau orang rumah lagi pergi semua. Kalau rumah nggak lagi sepi ya paling cuma berani ciuman dan raba sana-sini. Buat gue, semua itu biasa. Gue nglakuinnya karena merasa yakin doi bakal jadi suami gue. Gue nggak takut dosa. Kan kita sama-sama mau..“
–Pengakuan Neila (nama samara), pelajar kelas sebuah SMA di Jakarta Timur sehabis UAN– (Nusantaraku)

Peran Orangtua, Pendidik dan Media Massa

Belajar dari beberapa data dan berita diatas (kasus prostitusi siswi SMP di Jakarta dan Sukabumi, seks bebas siswi SMA Jakarta serta survei Komnas PA bersama LPA), maka sudah semestinya pemerintah bersama masyarakat melihat ini sebagai tantangan besar bagi bangsa ini. Anak-anak dan remaja adalah generasi harapan penerus bangsa ini. Untuk menjadi penerus bangsa yang akan mengisi perjuangan bangsa, tentulah diharapkan orang-orang yang berwatak dan berintegritas. Orang-orang yang dididik dan ‘dibentuk’, cerdas sekaligus bermoral. Ada orang yang sejak lahir memang memiliki jiwa pemimpin, namun pada umumnya jiwa kepemimpinan dari para pemimpin dunia ini muncul setelah melalui proses belajar yang panjang.

Apabila pemimpin itu dibentuk, bukan dilahirkan (Great Leader are Make, not Born), maka setiap lika-liku kehidupan seorang calon pemimpin sangatlah penting. Bila sejak kecil mereka memiliki masalah paradigma, maka kecil sekali kemungkinan mereka pada akhirnya menjadi pemimpin yang visionerl. Bila sejak kecil mereka memiliki masalah moralitas, maka kecil sekali kemungkinan mereka pada akhirnya menjadi pemimpin yang bermoral dan berintegritas. Dan apabila, krisis moralitas seperti kasus diatas kita biarkan, maka tidaklah mustahil bahwa nilai-nilai kultur positif nusantara hanya akan dapat ditemukan “museum moral Indonesia”.

Sementara, aksi-aksi demoralisasi masih tetap santer terdengar dan bahkan lebih progresif. Film porno kalangan remaja, siswa-siswi selalu menjadi berita nasional setidaknya tiap dua minggu sekali. Setiap berita ini muncul, maka animo netter naik beratus-ratus persen. Dalam salah satu kasus beberapa tahun yang lalu, ada seoraang anak SMP tega membunuh orang tuanya sendiri. Di tempat lain seorang anak SD bunuh diri dengan alasan tidak sanggup membayar SPP atau kisah anak SD lain yang bunuh diri hanya karena baju seragam hari itu tidak bisa dipakai karena basah terkena hujan. Tawuran pelajar SMA meski sudah mulai jarang kedengar, namun aksi pertikaian para mahasiswa kini menggantikan hot news.

Aksi dan aktivitas yang negatif ini tidak semata ditangani, namun harus dicegah. Aksi negatif lebih mudah menjamur daripada aksi positif. Indonesia memang tidak kekurangan siswa-siswi yang berprestasi hingga tingkat dunia dalam bidang sains, teknologi, seni, budaya, dan olahraga. Kualitas dasar anak Indonesia sangatlah, dan memiliki potensi yang besar untuk menjadi manusia yang berdaya manfaat tinggi bagi masyarakat dan lingkungannya. Oleh karena itu, semua potensi ini haruslah dikembang, sehingga kita perlu mendidik agar mereka tidak terjun ke gerbang kehancuran.

Siapakah yang paling bertanggungjawab dalam hal ini? Orang tua memiliki peranan nomor wahid. Pendidikan moral dan pekerti sudah semestinya dididik anak sejak dini ketika masa-masa terbesar hidup mereka berada di rumah bersama orang tua. Ketika mereka menginjak remaja, maka porsir terbesar jatuh ketangan pihak sekolah/guru. Pendidikan sekolah menjadi gerbang utama membentuk mindset, paradigma serta moralitas si anak ini. Hampir 1/2 ‘kehidupan’ siswa-siswi SMP-SMA berada di sekolah (6-8 jam di sekolah, 1-2 jam di luar sekolah, 6-8 jam di rumah, 7-9 jam tidur).

Pemuka agama seharusnya menjadi ‘pengawas moralitas’ masyarakat, namun banyak dari mereka terjebat dalam konflik kepentingan, politik hingga sebatas ‘artis’ lip service. Disini, peran pemerintah melalui media sangat penting dalam memproteksi anak-anak. Begitu juga, sistem pendidikan kita hendaknya memikirkan hal ini. Jangan sampai sistem pendidikan hanya dipandang sebagai mesin ‘produksi’ kelulusan kuantitatif. Seorang yang dinyatakan lulus hendaknya memikirkan faktor logika dan etika. Bukan sebatas angka UN, lalu orang lulus, namun moralitas diabaikan. Guru bukanlah mesin kelulusan, tapi guru adalah pendidik. Bukan juga semata pengajar, tapi sekali lagi pendidik!

Terakhir, semoga para orang tua untuk memberi perhatian yang baik kepada anak-anaknya. Jangan sampai anak-anak Anda masuk dalam daftar survei diatas. Karena berita diatas sangat mungkin fenomena gunung es yang terekspos di media.

Sumber

January 14, 2010 - Posted by | Information

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: